Selasa, 06/12/2005 18:02 WIB
Salah Bikin Acara, Indosiar Merugi Rp 24 Miliar
Ardian Wibisono - detikFinance
Jakarta -
Gara-gara salah bikin acara, pendapatan iklan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) anjlok hingga 20 persen. Akibatnya sampai September 2005 perseroan harus menelan kerugian hingga Rp 24 miliar.
Pendapatan iklan perusahaan induk dari TV Indosiar ini, sampai September hanya Rp 650 miliar atau turun 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 864 miliar.
"Tahun ini Indosiar tidak memiliki program unggulan. Kita juga telat memunculkan tayangan mistik," kata Direktur Keuangan IDKM Phiong Phillipus Darma dalam paparan publik yang berlangsung di Gedung Indosiar, Jalan Daan Mogot, Jakarta, Selasa (6/12/2005).
Pada awal tahun lalu, Indosiar memerediksi tren tayangan yang diminati masih
variety show. Namun di luar ekspektasi, tayangan mistik justru diminati pemirsa.
Padahal Indosiar memiliki kebijakan untuk tidak menayangkan acara mistik karena banyak diprotes. Namun akibat tidak mengikuti tren penayangan mistik ini, perusahaan mengalami penurunan pemasukan iklan dan
rating acara turun sampai 28 persen.
Melihat kondisi ini, ungkap Phiong, akhirnya Indosiar terpaksa ikut-ikutan menayangkan acara mistik pada Juni lalu.
"Karena acara tayangan mistik ternyata sedang digemari, sehingga pada Juni lalu Indosiar ikut menayangkan acara tersebut dengan banyak pertimbangan," kata Phiong.
Gambar Jelek
Phiong juga menjelaskan, selain salah pilih acara, turunnya pendapatan iklan juga karena penerimaan gambar yang jelek akibat
tower yang ada saat ini terhalang gedung-gedung tinggi.
Untuk itu, Indosiar akan membangun
tower baru setinggi 398 meter di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta, pada awal tahun, yang diperkirakan selesai Juni 2006.
Diharapkan dengan adanya
tower baru ini, penerimaan gambar di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi lebih baik. Pasalnya, 60 persen
market share untuk industri TV berada di Jakarta.
"Sebenarnya dari sisi mata acara, hampir semua TV seragam, jadi kualitas gambar menjadi cukup penting, kalau jelek sedikit, orang akan langsung pindah
channel," tutur Phiong.
Untuk pembangunan
tower baru ini, Indosiar menganggarkan biaya investasi Rp 120 miliar. Sebesar Rp 80 miliar untuk menara dan pemancarnya, serta sisanya untuk pembelian tanah.
Dana untuk pembangunan
tower baru ini berasal dari pinjaman Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 5 tahun dan bunga kredit sekitar 15 persen per tahun.
"Tahun depan Indosiar cukup optimistis dengan hadirnya
tower baru tersebut. Pemasukan iklan diperkirakan tumbuh 10-12 persen karena
tower baru beroperasi bulan Juni 2006," kata Phiong.
Untuk tahun depan, biaya investasi atau
capital expenditure (capex) di luar biaya pembangunan menara sebesar Rp 50 miliar. Dananya digunakan untuk membangun
tower kecil sekitar Rp 9-10 miliar dan Rp 40 miliar untuk pergantian peralatan.
Indosiar juga akan berupaya memiliki program unggulan pada tahun depan untuk menarik pemirsa dan memperbanyak iklan.
Sampai akhir tahun 2005, Indosiar memperkirakan masih mengalami rugi bersih, namun diperkirakan jumlahnya menurun dibanding September.
"Kita masih punya program yang cukup menjual sampai akhir tahun, seperti drama Korea dan
talk show, serta tayangan mistik," imbuh Phiong.
Untuk tahun depan, Indosiar tidak akan membagikan dividen karena masih rugi sampai akhir tahun ini.
Selama ini kontribusi pemasukan iklan terbesar berasal dari makanan dan minuman 35,61 persen, peralatan kesehatan 16,95 persen, produk farmasi 10,48 persen, dan rokok 9,26 persen.
"Untuk rokok mengalami peningkatan cukup signifikan karena penayangan Liga Italia ada iklan utama dari Gudang Garam," tandas Phiong.
(ir/)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).