Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 20/03/2010 15:04 WIB
Harga Emas Bergeming -
Sabtu, 20/03/2010 14:05 WIB
Penerimaan Bea Cukai Capai Rp 17,549 Triliun -
Sabtu, 20/03/2010 13:54 WIB
Sebelum Obama Datang, SBY Harus Perbaiki Tata Ekonomi RI -
Sabtu, 20/03/2010 13:24 WIB
Keluh Kesah Petani Rotan Indonesia -
Sabtu, 20/03/2010 12:09 WIB
Makin Akrab dengan AS, RI Makin Untung -
Sabtu, 20/03/2010 11:56 WIB
Industri Diminta Hemat Konsumsi Gas
Indeks Berita
Rabu, 21/05/2008 09:51 WIB
AS Loloskan UU Anti OPEC
Nurul Qomariyah - detikFinance

Lambang OPEC (ist)
UU yang lolos setelah voting 324 melawan 84 itu, keluar sehari setelah harga minyak mentah dunia melambung hingga menembus US$ 129 per barel.
UU itu akan memperbolehkan Departemen Kehakiman AS untuk mengenakan negara-negara anggota OPEC dengan UU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, sebagaimana perusahaan-perusahaan AS lainnya.
"Daripada menggunakan hak veto untuk mengancam kartel minyak ini dan juga perusahaan-perusahaan minyak mentah untuk akuntabilitasnya, maka pemerintah Bush sebaiknya bekerja dengan Kongres untuk melindungi konsumen AS," kata anggota Kongres Nancy Pelosi seperti dikutip dari AFP, Rabu (21/5/2008) .
Namun Gedung Putih memperingatkan bahwa UU itu dapat mengganggu investasi asing di AS, dan bisa menimbulkan balas dendam kepada perusahaan-perusahaan AS di luar negeri. UU itu juga dikhawatirkan dapat membatasi suplai minyak AS, meningkatnya harga minyak dan pengangguran di AS.
Sementara harga minyak mentah AS kemarin kembali melonjak menembus rekor tertingginya, berkaitan dengab memanasnya lagi hubungan AS dan Iran sehingga memicu kekhawatiran suplai.
Kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman Juni sempat menyentuh level tertinggi di US$ 129,60 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 2,02 dolar ke level US$ 129,07 per barel.
Sementara minyak jenis Brent juga ditutup menguat 2,78 dolar ke level US$ 127,84 per barel, setelah sempat menembus uS$ 128,07 per barel.
Menurut Eric Wittenauer, analis dari Wachovia Securities, lonjakan harga terjadi karena memanasnya kembali hubungan AS-Iran. Pasar langsung bereaksi setelah adanya artikel di Jerussalem Post yang menyatakan bahwa Presiden Bush ingin menyerang Iran sebelum masa kepemimpinannya berakhir,
Menurutnya, pasar juga bereaksi atas gangguan suplai di Prancis dan ketidakmauan OPEC menambah produksi.
(qom/ddn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (12 Komentar)
Baca juga :
- Harga Minyak Bangkit Lagi
- Iran: Suplai Minyak Sudah Sangat Berlebihan
- IMF Punya Andil atas Kemerosotan Produksi Minyak RI
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).



