Forum Finance
- Turki Lihai Kenakan Anti-... pitulas
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 20/03/2010 15:04 WIB
Harga Emas Bergeming -
Sabtu, 20/03/2010 14:05 WIB
Penerimaan Bea Cukai Capai Rp 17,549 Triliun -
Sabtu, 20/03/2010 13:54 WIB
Sebelum Obama Datang, SBY Harus Perbaiki Tata Ekonomi RI -
Sabtu, 20/03/2010 13:24 WIB
Keluh Kesah Petani Rotan Indonesia -
Sabtu, 20/03/2010 12:09 WIB
Makin Akrab dengan AS, RI Makin Untung -
Sabtu, 20/03/2010 11:56 WIB
Industri Diminta Hemat Konsumsi Gas
Indeks Berita
Jumat, 18/07/2008 09:26 WIB
Harga Minyak Anjlok ke US$ 130 per Barel
Nurul Qomariyah - detikFinance

Foto: AFP
Kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman Agustus, pada penutupan perdagangan Kamis (17/7/2008) merosot hingga 5,31 dolar ke level US$ 129,29 per barel.
Namun pada perdagangan Jumat (18/7/2008) di Singapura, kontrak ini rebound 1,02 dolar ke level US$ 130,31 per barel. Kontrak ini menembus rekornya di US$ 147 per barel pada Jumat pekan lalu, namun selanjutnya anjlok tajam setelah data cadangan minyak AS menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari ekspektasi pasar.
Sementara minyak jenis Brent pengiriman September kemarin turun hingga 2,56 dolar ke level 136,19 per barel. Namun pada perdagangan di Asia Jumat ini, kontrak ini naik 55 sen ke level 131,62 per barel.
Para pialang menyatakan, anjloknya harga minyak dipicu oleh terus melemahnya pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya memicu penurunan permintaan minyak dunia.
Analis dari Sucden, Nimit Khamar mengatakan, pasar terdukung oleh kuatnya fundamental permintaan dan penawaran dalam jangka panjang.
"Namun dalam jangka pendek, ada kecemasan yang nyata tentang kesehatan perekonomian dunia," ujar Khamar seperti dikutip dari AFP.
Turunnya harga minyak terutama dipicu oleh peningkatan tajam yang melebihi perkiraan investor untuk cadangan migas AS. Untuk pekan yang berakhir 11 Juli, cadangan minyak mentah AS meningkat 3 juta barel, sementara pasar memperkirakan adanya penurunan cadangan 2,2 juta barel.
"Laporan cadangan intinya mengindikasikan bahwa permintaan minyak AS sangat lemah," ujar Victor Shum, analis dari Purvin and Gertz.
(qom/ir)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (7 Komentar)
Baca juga :
- Harga Minyak Turun ke US$ 134
- Antisipasi Minyak US$ 150, Dana Cadangan Ditambah Rp 2 T
- Harga Minyak Susut ke US$ 138
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).



