Forum Finance
- Turki Lihai Kenakan Anti-... pitulas
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 20/03/2010 15:04 WIB
Harga Emas Bergeming -
Sabtu, 20/03/2010 14:05 WIB
Penerimaan Bea Cukai Capai Rp 17,549 Triliun -
Sabtu, 20/03/2010 13:54 WIB
Sebelum Obama Datang, SBY Harus Perbaiki Tata Ekonomi RI -
Sabtu, 20/03/2010 13:24 WIB
Keluh Kesah Petani Rotan Indonesia -
Sabtu, 20/03/2010 12:09 WIB
Makin Akrab dengan AS, RI Makin Untung -
Sabtu, 20/03/2010 11:56 WIB
Industri Diminta Hemat Konsumsi Gas
Indeks Berita
Selasa, 07/10/2008 14:45 WIB
Krisis AS Goncang Industri Hulu Migas RI
Angga Aliya ZRF - detikFinance

Foto: Reuters
Demikian disampaikan Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin di sela silaturahmi BP Migas di Kantor BP Migas, Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (7/10/2008).
Menurutnya, para perusahaan minyak baik yang skala kecil maupun besar pasti akan menghitung ulang pendanaan dan rencana kegiatannya. Di saat kucuran dana akan menjadi seret, hanya perusahaan yang memiliki modal kuatlah yang bisa bertahan.
"Perusahaan harus melakukan hitungan-hitungan ulang, baik pendanaan, scheduling, dan lainnya. Perusahaan besar punya cash flow bagus, aktifitasnya nggak terganggu. Sedangkan perusahaan kecil yang banyak tergantung pada pendanaan luar, sehingga mereka akan sangat terganggu," ujarnya.
Bahkan Muin memprediksi, bukan tidak mungkin perusahaan minyak yang tidak bisa bertahan akan menghentikan atau menunda kegiatan ekslorasinya dan menjual aset-aset di luar bisnis intinya.
Jika keadaan makin memburuk dan perusahaan minyak yang kolaps tidak jua mendapatkan pendanaan murah, maka dibutuhkan konsolidasi atau bisa saja terjadi akuisisi oleh perusahaan yang lebih besar.
"Jadi secara bargaining position, struktur perusahaan-perusahaan migas itu akan dikendalikan oleh perushaan besar atau produsen besar seperti OPEC," lanjutnya.
Sedangkan terkait Pertamina, menurut Muin, BUMN migas ini termasuk kuat dalam permodalan dari internalnya, sehingga tidak akan terpengaruh secara signifikan.
Sebagai langkah antisipasi, Kepala BP Migas R Priyono menyatakan, pihaknya akan mendekati beberapa sumber pendanaan untuk membantu perusahaan minyak skala menengah ke bawah.
Hal ini dilakukan agar perusahaan minyak tetap beraktivitas di Indonesia untuk meningkatkan produksi minyak nasional.
"Indonesia tidak memiliki pilihan, karena kebutuhan dalam negeri juga masih tinggi, jadi produksi banyak juga nggak ada masalah. Karena kebutuhan kita 1,3 juta barel, sedangkan produksi hanya 900 ribu-1 juta bph, jadi kalau mau naik 100 ribu juga nggak masalah," katanya.
Sedangkan terkait harga minyak, Priyono menyatakan harga minyak yang masih bisa diterima adalah sekitar US$ 90-100 per barel. "Kalau diatas US$ 120 agak bahaya," katanya.
(lih/ddn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Krisis di AS Turunkan Harga Minyak Indonesia
- Antisipasi Krisis Global, Pemerintah - BI Rapatkan Barisan
- SBY: Mimpi Buruk Krisis 1998 Takkan Terjadi
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).



