Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 19/03/2010 11:58 WIB
Hutan Lindung Bisa Digunakan Untuk Kegiatan Bisnis -
Jumat, 19/03/2010 10:25 WIB
Hatta: Menara Telekomunikasi 100% untuk Investor Lokal -
Kamis, 18/03/2010 20:13 WIB
RI Ajak China Bangun Industri Manufaktur -
Kamis, 18/03/2010 18:34 WIB
Nestle Tetap Beli Sebagian CPO dari Indonesia -
Kamis, 18/03/2010 18:24 WIB
Krisis Eropa Jadi Peluang Masuknya Modal Asing ke RI -
Kamis, 18/03/2010 17:15 WIB
Petani Sawit Geram Pemutusan Kontrak CPO Terulang
Indeks Berita
Kamis, 09/10/2008 20:33 WIB
Gejolak Pasar Finansial
Presiden Minta Tak Ada Kepanikan Agar Dampak Minimal
Luhur Hertanto - detikFinance

Foto: Abror/Setpres
"Pada rakyat agar mengerti sistem telah dan terus bekerja. Kita tahu mana yang harus diutamakan dan lindingi. Kita mengelola semua dampak krisis pada semua aspek perekonomian kita," jelas SBY di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/10/2008).
"Harus diyakini benar oleh rakyat kita bahwa pemerintahnya terus kelola dan bekerja. Tidak perlu ada kepanikan-kepanikan yang tidak semestinya sehingga dampaknya bisa kita minimallkan," imbuhnya.
Menurut presiden, Menkeu dan para pejabat terkait sudah memberikan penjelasan kepada publik terkait langkah moneter fiskal terpadu untuk kelola masalah ekonomi dewasa ini.
"Ini menunjukkan sistem telah dan terus kerja. Kita nggak hanya memantau dan antisipasi, tapi juga mengambil policy respons semestinya," jelas Presiden usai Rapat Terbatas.
Presiden menambahkan, dalam 3 hari terakhir ini terlah terjadi banyak dinamika yang merupakan bagian kirisis global. Pemerintah pun harus melakukan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter.
"Kita tetap mengendalikan situasi dengan baik, bahwa ada dinamika di pasar modal, ya kita tahu di bagian lain dunia juga mengalaminya. Maka pioritas pemerintah adalah mengambil pelajaran krisis 1998," katanya.
Langkah-langkah prioritas itu adalah:
Pertama, mengutamakan proteksi rakyat kecil. Memastikan kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, pendidikan dan layanan publik lainnya tidak mengalami gangguan.
"Karenanya program penanggulangan kemiskinan, 3 kluster dan peningkatan kesejahteraan, jalan terus. Di dalam APBN 2008 anggarannya harus tetap mengalir," jelas presiden.
Dalam APBN-P 2008, terdapat Rp 290 triliun belanja kementerian dan lembaga untuk pos social safety net. Dari jumlah itu, menurut presiden, terdapat Rp 25,9 triliun yang akan dipercepat pengeluarannya pada Oktober ini. Dengan demikian, maka sudah 60% dana APBN 2008 yang cair. Ini merupakan likuiditas untuk menjamin terus bergeraknya pembangunan.
"Sehingga ini bisa menjawab bila kita alami kesulitan likuiditas pembiayaan pembangunan kita. Sebaiknya hingar bingar krisis financial krisis ini tidak mengusik pembanguanan yang dibayai APBN kita. Itu yang jadi konsentrasi kita," tegas Presiden.
Kedua, memastikan sektor riil terus bergerak.
"Maka dalam 3 hari ini saya berkomunikasi dengan pengusaha nasional agar mereka tidak
disorientasi. Pemerintah dan perbankan memastikan ada likuiditas dan kredit agar sektor riil tetap terjaga. Tapi kalaupun 2009 ada penurunan ekspansi, itu bisa dimengerti," urai presiden.
Ia menambahkan, pemerintah sudah belajar dari krisis finansial global sejak krisis 1930
sampai 1998 sehingga arah pembangunan ekonomi Indonesia bisa benar.
"Kita harus menggunakan benar sumber daya yang kita miliki sendiri, termasuk sumber pembiayaan dalam negeri. Ekonomi dalam negeri kita perkuat, pasar domestik kita perkuat," tambahnya.
Ketiga, terkait gonjang-ganjing pasar saham dan fiskal, banyak hal yang berada di luar jangkauan pemerintah karena harus tunduk pada hukum global.
"Tapi terus dampaknya kita minimalkan," pungkasnya. (lh/qom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (14 Komentar)
Baca juga :
- Pertumbuhan Ekonomi 2009 Diturunkan Akibat Krisis
- Miranda Lapor Kondisi Ekonomi ke Agung Laksono
- Genjot Ekspor Saat Krisis, SBY akan Lobi Amerika Latin
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




