Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 19/03/2010 17:21 WIB
Indocement Bidik Pertumbuhan Penjualan 6% di 2010 -
Jumat, 19/03/2010 17:19 WIB
Recapital Siap Eksekusi Rights Issue Bank Eksekutif Hingga Rp 500 M -
Jumat, 19/03/2010 16:55 WIB
Ubah Skema Akuisisi Bank Eksekutif, Recapital Cs Taruh Deposito Rp 180 M -
Jumat, 19/03/2010 16:48 WIB
Indocement Bangun PLTU Senilai US$ 150 Juta -
Jumat, 19/03/2010 16:09 WIB
IHSG Cetak 5 Poin Dalam Volatilitas Tinggi -
Jumat, 19/03/2010 16:02 WIB
BTPN Terbitkan Obligasi Rp 750 Miliar
Indeks Berita
Rabu, 19/11/2008 18:28 WIB
Imbauan BI untuk Melepas Dolar Kontraproduktif
Wahyu Daniel - detikFinance

Foto: Reuters
Mereka berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk dari nilai rupiah dan sistem penjaminan yang tidak penuh atau blanket guarantee.
"Tidak seharusnya BI selaku bank sentral melontarkan hal itu. Toh sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa pasar uang lokal maupun mancanegara sedang alami kekeringan likuiditas valas, utamanya dolar," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Bambang Soesatyo, Rabu (19/11/2008).
Bambang mengatakan bisa dipahami maksud imbauan Gubernur BI itu sebagai kerjasama saling menguntungkan. Namun imbauan itu dinilai dikeluarkan pada waktu yang tidak tepat.
"Menguntungkan bagi publik pemilik dolar AS, juga menguntungkan bagi BI karena bisa menambah volume dolar AS di pasar uang. Namun disampaikan pada waktu yang tidak tepat," ujarnya.
Lebih dari itu, diteruskan Bambang, imbauan Gubernur BI Boediono boleh ditafsirkan bahwa pada posisi kurs rupiah-dolar AS sekarang ini yakni Rp 11.000 -12.000 per dolar AS sebagai titik keseimbangannya dalam periode krisis finansial saat ini.
"Artinya, sekarang saatnya bagi publik pemilik dolar AS melakukan profit-taking, karena proses pelemahan rupiah sudah mencapai limitnya. Namun fakta yang ada justru menjelaskan kepada kita pesan yang sampai pada masyarakat bahwa BI mulai panik karena kekeringan valas," pungkasnya. (dnl/qom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (2 Komentar)
Baca juga :
- Rupiah Melemah ke 12.190/US$
- Menkeu: Rumah Tangga Tak perlu Pegang Dolar AS
- Transaksi Dolar AS Minim Pemicu Pelemahan Rupiah
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).



