Berita Lain

Indeks Berita



Rabu, 04/02/2009 11:55 WIB
BI Rate Turun Demi Perekonomian
Indro Bagus SU - detikFinance


Foto: Dok detikFinance
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan penurunan BI Rate menjadi 8,25% demi menggerakkan lagi perekonomian di tengah lesunya perekonomian global. Dengan BI Rate turun 50 basis poin, bank diharapkan semakin banyak mengucurkan kredit.

Demikian disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom yang ditemui disela-sela Festival Ekonomi Syariah di Jakarta Convention Center, Rabu (4/2/2009).

"Penurunan suku bunga untuk mendorong kredit dan perekonomian maka kami pangkas 50 basis poin dan menggambarkan keyakinan BI bahwa untuk mendukung pertumbuhan yang kita harapkan 4,5%, baik otoritas moneter maupun otoritas kita harus bekerja sama," urainya.

Apalagi, lanjut Miranda, pertumbuhan ekonomi global didiskon dari 2,1 persen menjadi 0,5 persen. Sementara perekonomian negara-negara besar seperti AS, Jepang dan negara-negara Eropa sudah berada diteritori negatif.

"Maka BI menganggap bahwa kita perlu memberikan sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi perlu didorong oleh suatu koordinasi yang baik, dimana peranan BI adalah penurunan suku bunga. BI memahami apa, kebijakan yang diperlukan pada saat kondisi seperti ini," tambah Miranda.

Dengan demikian, BI berharap penurunan BI Rate ini bisa menjadi sinyal bagi perbankan agar memberikan kredit lebih banyak. "Kami ingin menghimbau perbankan," tegasnya.

Untuk ke depannya, kata Miranda, penurunan BI Rate masih terbuka lebar jika memang inflasi semakin terkendali dan di tengah perekonomian global yang belum pulih.

"Kalau bulan depan menunjukkan tanda-tanda inflasi semakin berkurang dan perekonomian dunia masih belum pasti, kami masih membuka ruang bagi penurunan suku bunga. Tapi berapa-berapanyanya belum bisa kita tentukan," katanya.

Miranda juga menegaskan, pergerakan suku bunga kini sudah tidak terlalu mempengaruhi rupiah. Menurutnya, pergerakan rupiah lebih disebabkan karena likuiditas dunia yang memang sedang kering.

"Pelemahan rupiah lebih banyak disebabkan oleh ketidakpastian kondisi dunia. Pergerakan rupiah sudah tidak lagi bergantung pada suku bunga. Tapi lebih dipengaruhi likuiditas dunia yang memang kering, terutama dolar. Ini terjadi dimana-mana bukan hanya di Indonesia," pungkasnya.

Pada sesi siang ini, nilai tukar rupiah masih terkulai di 11.680 per dolar AS. Rupiah sempat mendekati 12.000 per dolar AS pada awal pekan ini.


(qom/ir)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!


Baca juga :


Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).