Forum Finance
- Turki Lihai Kenakan Anti-... pitulas
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 20/03/2010 15:04 WIB
Harga Emas Bergeming -
Sabtu, 20/03/2010 14:05 WIB
Penerimaan Bea Cukai Capai Rp 17,549 Triliun -
Sabtu, 20/03/2010 13:54 WIB
Sebelum Obama Datang, SBY Harus Perbaiki Tata Ekonomi RI -
Sabtu, 20/03/2010 13:24 WIB
Keluh Kesah Petani Rotan Indonesia -
Sabtu, 20/03/2010 12:09 WIB
Makin Akrab dengan AS, RI Makin Untung -
Sabtu, 20/03/2010 11:56 WIB
Industri Diminta Hemat Konsumsi Gas
Indeks Berita
Jumat, 29/05/2009 14:10 WIB
Faisal Basri : Privatisasi Tidak Berarti Neoliberal
Elvan Dany Sutrisno - detikFinance

Faisal Basri (Foto: dok detikcom)
"Privatisasi tidak berarti neoliberal, misalnya negara menjual hotel bukan neolib, kalau yang dijual hotel mosok dibilang neolib, pemancingan ikan dijual masa dibilang neolib, masa negara ngurusin ikan," tutur Faisal.
Hal ini disampaikan Faisal dalam dialog kenegaraan bertajuk "Neoliberalisme Vs Kerakyatan" di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Jumat (29/5/2009).
Menurut Faisal, perdebatan panjang mengenai neoliberal tidak lagi relevan. Menurutnya ekonomi kerakyatan tidak dapat dibandingkan dengan neoliberal.
"Itu kan kesannya neolib diversuskan dengan ekonomi kerakyatan, ga bener namanya itu, bolak balik gitu lagi, jadi tidak mutu," tutur Faisal.
Faisal kemudian menjelaskan duduk perkara sistem ekonomi yang belakangan menjadi isu politik ini. Menurutnya neoliberal dan komunis adalah paham ekonomi namun kerakyatan adalah penerapan sistem ekonomi bukan paham ekonomi.
"Neolib itu lawannya komunisme, ekonomi kerakyatan adalah bukan ideologi, itu adalah mekanisme ekonomi untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya," tutur Faisal.
Menurut Faisal masih banyak hal-hal yang harus ditangani bangsa Indonesia selain mempeributkan isu neoliberalisme. Rakyat miskin menanti lapangan pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.
"Menjelaskan tantangan bangsa kedepan dan menjawabnya jauh lebih penting, daripada kita capek-capek berbicara neolib, mau apa-apa kok neolib," tutur Faisal.
Faisal kemudian membeberkan beberapa permasalahan yang menurutnya memprihatinkan. Faisal berharap pemerintah segera menemukan solusi untuk mengatasinya.
"Ekonomi kita tercabik-cabik dengan mekanisme pasar, anda liburan keluar negeri lebih mahal dari ke dalam negeri, sumatera produsen batubara tetapi kok listriknya padam terus," tutur Faisal.
Apa harapannya tentang kemajuan perekonomian Indonesia kedepan? "Kita harus berada ditengah-tengah antara pasar dengan negara, kalau sedikit ada unsur pasar bukan berarti neolib," tegasnya.
(van/qom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (21 Komentar)
Baca juga :
- Rizal Ramli : 4 Tahun Lalu Neolib Malu-malu
- Rizal Ramli: BLT Seperti 'Tensoplast'
- Sri Mulyani: Ketiga Capres Bukan Neolib
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).



