Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 19/03/2010 18:01 WIB
Turki Lihai Kenakan Anti-Dumping Untuk Indonesia -
Jumat, 19/03/2010 17:46 WIB
Pemerintah Tak Sanggup Biayai Infrastruktur Sendirian -
Jumat, 19/03/2010 17:18 WIB
Pertamina Tetap Ngotot Impor Minyak Lewat Trader -
Jumat, 19/03/2010 15:56 WIB
DEN Rekomendasikan Kenaikan Harga Jual Listrik Swasta -
Jumat, 19/03/2010 15:29 WIB
Boediono: Jam Operasi Supermarket Tak Akan Dibatasi -
Jumat, 19/03/2010 15:17 WIB
Boediono Pimpin Komite Pengawas Anggaran Pendidikan
Indeks Berita
Kamis, 02/07/2009 16:38 WIB
Pertamina dan PGN 'Cerai' di Proyek Terminal LNG
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
foto: epi/detikFinance
Menurut Dirut Pertamina Karen Agustiawan, 'perceraian' ini terpaksa terjadi agar target pembangunan 2 terminal LNG itu bisa cepat tercapai. Pertamina akan membangun terminal floating LNG di Jawa Barat sementara PGN akan membangun di Sumatera Utara.
"Yang terakhir dari rapat itu, kita akan konsentrasi membangun yang di Jawa. PGN akan konsentrasi membangun yang di Sumatera Utara. Jadi satu-satu," jelasnya di Gedung Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (2/7/2009).
Menurut Karen, alasan diambilnya keputusan tersebut yaitu untuk mempercepat proses pembangunannya. Sebab sebelumnya, Pertamina dan PGN diminta untuk mengerjakan selama 3 tahun sampai on stream, namun kemudian pemerintah merevisi permintaannya menjadi hanya 2 tahun.
Meski dibangun sendiri-sendiri, namun di masa datang Pertamina tetap bisa ikut serta di proyek PGN di Sumatera Utara. Begitu juga sebaliknya, PGN bisa berkontribusi di proyek Pertamina di Jawa Barat.
"Karena ini disuruh cepat, maka leadnya sendiri-sendiri. Tapi at the end, boleh saling berkontribusi," ungkapnya.
Adapun kapasitas terminal LNG floating di Jawa Barat yang akan lanjut Karen mencapai sekitar 200-400 mmscfd. Sedangkan kapasitas proyek PGN di Sumatera Utara sekitar 100-150 mmscfd.
Meski dibangun terpisah, tujuan pembangunan kedua proyek itu tetap sama, yaitu untuk memenuhi kebutuhan PLN.
"Kalau yang di Jakarta untuk PLTGU Tanjung Priok dan PLTGU Muara Karang, kalau di Sumatera saya nggak tahu untuk PLTU mana," tegasnya.
Karen mengakui pembangunan terminal apung hanya membutuhkan waktu sekitar 8 bulan. Namun, persiapan menunjuk
konsultan dan sebagainya membutuhkan waktu sehingga harus dilakukan segera. Saat ini konsorsium sedang membuka tender untuk mencari konsultan pembangunan terminal tersebut.
"Kita sekarang sedang mencari konsultan untuk itu," ungkapnya. Sementara PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk mengaku belum mengetahui soal bercerainya PGN dan Pertamina dalam pembangunan terminal floating LNG di Jawa bagian Barat.
Hal ini disampaikan Corporate Secretary PGN, Wahid Sutopo dalam pesan singkatnya, Kamis (2/6/2009).
"Sampai saat ini kita masih mengacu pada HoA yang disepakati pada tanggal 17 April 2009 mengenai pembentukan perusahaan LNG Receiving Terminal," ujar Wahid.
Wahid menjelaskan saat ini konsorsium tersebut masih fokus pembangunan LNG Receiving Terminal di wilayah Jawa Bagian Barat. (epi/lih)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Pertamina Ikut Tender Ulang Ladang Migas di Irak
- Pertamina Incar Ladang Minyak di Mauritania
- FCC Kilang Plaju Berhenti Operasi 2 Minggu
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




