Berita Lain
-
Jumat, 03/09/2010 14:48 WIB
Cadangan Devisa RI Tembus US$ 81,3 Miliar -
Jumat, 03/09/2010 14:25 WIB
Aturan Baru BI
GWM Primer Naik Jadi 8%, LDR Dibatasi 78-100% -
Jumat, 03/09/2010 13:56 WIB
BI Pertahankan Lagi BI Rate di 6,5% -
Jumat, 03/09/2010 13:52 WIB
Nasabah: Bapepam Melempem Hadapi Bakrie Life -
Jumat, 03/09/2010 13:04 WIB
Datangi Wisma Bakrie, Nasabah Bakrie Life Diusir Satpam dan Polisi -
Jumat, 03/09/2010 12:56 WIB
Kadin Berharap Bunga Kredit Turun ke 14-16%
Indeks Berita
Jumat, 05/03/2010 10:16 WIB
Pidato SBY Bisa Naikkan Peringkat Indonesia
Angga Aliya ZRF - detikFinance

"Investor asing sebenarnya tidak mengerti kenapa kebijakan penyelamatan bank di masa krisis dipermasalahkan selama ini. Sebagian bilang ini terlalu dipolitisasi, tapi dengan pidato semalam semuanya menjadi clear," kata Ekonom Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa saat dihubungi detikFinance, Jumat (5/3/2010).
Ia mengatakan, peringkat Indonesia bisa kembali menanjak setelah SBY menyatakan kebijakan bailout adalah dalam rangka menyelamatkan perekonomian nasional. Di mata asing, SBY menunjukkan kepemimpinan yang kuat dengan melindungi anak buahnya, yaitu Boediono (kala itu Gubernur BI) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam mengambil kebijakan penyelamatan.
"Itu yang ingin dilihat investor, sifat kepemimpinan itu menonjol tanpa tertekan oleh pernyataan parlemen (DPR). Ini pidato yang cukup smart karena secara tidak langsung membenarkan penyelamatan tersebut," jelasnya.
Purbaya menambahkan, naiknya peringkat Indonesia itu harus diiringi dengan komitmen untuk melanjutkan pembangunan ekonomi yang selama ini sudah menjadi janji SBY ketika diangkat kembali menjadi Presiden RI. Dengan catatan, tidak ada lagi politisasi dalam pembangunan ekonomi RI ke depan.
"Rating kita tidak naik karena ada Pansus. Tapi kalau pansus sudah selesai, mereka (lembaga pemeringkat) mungkin bisa naikan rating lagi. Potensi itu cukup besar tergantung jalannya pembangunan ekonomi, harus tanpa gangguan politik," ucapnya.
Lembaga pemeringkat, Standard & Poor's (S&P) sebelumnya dikabarkan menolak untuk menaikkan peringkat Indonesia karena politisasi kasus bailout Bank Century. Politisasi bailout tersebut dikhawatirkan menimbulkan ketidakpastian di Indonesia.
Selain bakal meningkatkan rating, pidato SBY semalam juga diperkirakan akan disambut positif oleh pasar. Hal ini terlihat dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang langsung bergerak menguat saat pembukaan hari ini, diiringi nilai tukar rupiah yang stabil.
IHSG dibuka menguat 8,152 poin (0,32%) ke level 2.573,797, kenaikan ini didukung dengan naiknya bursa-bursa regional. Sementara rupiah dibuka di level Rp 9.275 per dolar AS.
Menurut Purbaya, untuk sementara rupiah akan bertahan di sekitar Rp 9.000-9.500. "Tapi cenderung ke arah menguat," katanya.
(ang/qom)
GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (26 Komentar)
Baca juga :
- SBY Tak Singgung Ketidakakuratan Data Bailout Century dari BI
- Menkeu: Saya Sangat Puas dengan Pidato Presiden
- SBY: Tak Melibatkan IMF, RI Lebih Mandiri Tangani Krisis 2008
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).










---125x125.gif)
