Berita Lain
-
Minggu, 05/09/2010 16:12 WIB
Jamu RI Kalah Pamor dengan Jamu Malaysia -
Minggu, 05/09/2010 14:36 WIB
Mulai November 2010, Jawa-Bali Dapat Tambahan Daya 330 MW -
Minggu, 05/09/2010 12:58 WIB
Fauzi Bowo : Jangan Terlalu Mudah Bawa Sanak Saudara Adu Nasib di Jakarta -
Minggu, 05/09/2010 12:28 WIB
Industri Jamu Resah Maraknya 'Jamu' Oplosan -
Sabtu, 04/09/2010 17:08 WIB
Puncak Mudik Selasa, ASDP Kerahkan 28 Kapal Ferry -
Sabtu, 04/09/2010 16:04 WIB
Penjual Parsel Cikini Mengaku Bebas Makanan Kadaluarsa
Indeks Berita
Kamis, 11/03/2010 17:44 WIB
Laporan dari Sydney
RI-Australia Rancang Kerjasama Investasi di Wilayah Timur
Anwar Khumaini - detikFinance

Hal ini dikemukakan Presiden SBY dalam Forum Bisnis yang dihadiri 250 pimpinan bisnis Australia di Hotel Shangrilla, Sydney, Kamis (11/3/2010) pagi waktu setempat.
"Investasi Australia di Indonesia adalah ke-12 terbesar di Indonesia, utamanya dalam minyak dan gas," kata Presiden.
Presiden menjelaskan kepada para pengusaha bahwa dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Kevin Rudd menyepakati untuk memperkuat hubungan ekonomi dan bisinis kedua negara.
"Perdana Menteri Kevin Rudd dan saya telah merancang kerjasama provinsi wilayah timur Indonesia dengan Australia untuk ketahanan pangan, ketahanan energi, infrastruktur dan pertanian," kata Presiden.
Selanjutnya Presiden mengenalkan mengenalkan enam gubernur di kawasan timur Indonesia kepada keempat perusahaan besar tersebut.
Mereka adalah Gubernur Papua Barnabas Seubu, Gubernur Papua Barat Abraham Attauri, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Gubernur NTB Tuan Guru, Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
"Saya berharap anda bisa melakukan kerjasama dengan para gubernur ini," ujar SBY.
Kepala Negara menjelaskan dalam 100 hari pemerintahannya telah diselesaikan sejumlah hal untuk memperlancar investasi di Indonesia seperti menyelesaikan pelayanan satu pintu (national single window) untuk urusan ekspor dan impor, membentuk klusterisasi industri, menerbitkan aturan penggunaan lahan dan menyiapkan infrastruktur .
Indonesia, kata Presiden, juga memiliki ptensi gas besar dan kini sedang menmbangun proyek listrik 10 ribu megawatt.
"Di sektor Agribisnis, Indonesia adalah negara penghasil terbesar kelapa sawit dan kakao," ujarnya.
Indonesia juga telah menyelesaikan berbagai regulasi tenaga kerja dan melakukan reformasi sektor pajak. Rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 225 juta jiwa juga merupakan potensi pasar dan bisnis yang besar.
Usai memberikan sambutan, SBY menggelar sesi tanya jawab dengan pengusaha Australia dipandu oleh Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu.
Sebelumnya, Presiden sempat menggelar pertemuan dengan Direktur Utama Coca Cola, Direktur Utama Ramsey Healthcare, Direktur Utama Commonwealth Bank of Australia, Direktur Utama Theiss.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengatakan keempat pimpinan perusahaan asal Australia tersebut menyatakan niat untuk memperluas investasi dan bisnisnya di Indonesia.
"Perluasan akan dilakukan Ramsey Healthcare, Bank of Commonwealth akan membuka minimum 25 cabang lagi dalam tahun ini, Theiss sudah mendapatkan dua konsesi tol di daerah Jakarta, Coca Cola juga akan melakukan perluasan beberapa pabrik lagi," kata Gita Wirjawan.
Saat ditanya berapa perkiraan investasi baru keempat perusahaan itu, Gita menyatakan berdasarkan perhitungannya mencapai US$ 1 miliar.
Gita menambahkan pada acara makan pagi kemarin dia bersama Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Asutralia dan 65 pimpinan usaha di Australia yang bergerak di sektor aviasi, kesehatan, agribisnis, perbankan, manufaktur, migas dan lain-lain.
Pertemuan juga dihadiri Ketua Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa dan pimpinan Kamar Dagang Industri (Kadin), dan Gubernur Bank Mandiri Agus Martowardojo.
Gita mengatakan dalam pertemuan tersebut pengusaha Australia memberi pesan positif dan keinginan untuk berinvestasi di Indonesia.
"Pada umumnya mereka menyampaikan pesan-pesan positif, dari orang yang sudah berinvestasi di Indonesia, akan berinvestasi, dan mereka yang mendengar kabar positif Indonesia dari rekan-rekannya untuk mengetahui peluang-peluang baru di Indonesia," ujarnya.
Menurut Gita, penguaha Australia tertarik untuk masuk sektor pertanian dan pangan seperti beras, gandum, jagung dan peternakan. Karena itu tawaran Indonesia untuk berinvestasi di enam provinsi cukup menjanjikan.
(anw/qom)
GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (2 Komentar)
Baca juga :
- RI-Australia Jalin Kerjasama Senilai US$ 2,5 Miliar
- Laporan dari Sydney
Produk RI Bersaing Ketat di Pasar Australia - Rawan Proteksionisme, Australia Tolak Istimewakan Usaha Lokal
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).









---125x125.gif)
